Jumat, 21 Oktober 2011

Sejarah Pertumbuhan Dan Perkembangan Ilmu Tauhid


KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan kesehatan serta kekuatan dan kemauan kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik, walaupun masih ada kekurangan dari segi manapun.Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah.
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada dosen pengampu study ilmu kalam Ibu Siti Aminah Sahal, yang telah meluangkan waktu, pikiran dan tenaganya kepada kami, sehingga kami dapat bersemangat dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini disusun berdasarkan sumber bacaan, pengetahuan yang kami ketahui, berbagai buku serta dari sumber lainnya yang relevan dalam bahasan ini dengan segala keterbatasan kami, sehingga masih banyak kekurangan-kekurangan di dalam pembahasan ini.Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun  sangat dibutuhkan, sehingga dikemudian hari makalah ini dapat disajikan dengan lebih baik dan lengkap.
Semoga makalah ini dapat menambah informasi, pengetahuan dan wawasan bagi penulis dan pembaca.











DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGATAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
B.     Rumusan Masalah
C.     Tujuan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A.    Lahirnya Ilmu Tauhid
B.     Ke tauhidan dari Masa ke Masa
C.     Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ilmu Tauhid Menjadi Ilmu Kalam
D.    Sistem Mutakallim dalam Membahas Permasalahan-Permasalahan  Kalam
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang Masalah
Sebagai salah satu study pemikiran keislaman, ilmu tauhid memiliki posisi terhormat dalam tradisi keislaman. Hal itu karena ilmu tauhid adalah tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok dalam ajaran islam, yaitu simpul-simpul keimanan, ke-mahaesaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. Di Indonesia, terutama dalam sistem pengajaran di madrasah dan pesantren, kajian tentang ilmu tauhid merupakan suatu hal yang tidak mungkin datinggalkan.
Dalam realitis sejarah, banyak dari ulama’ salaf yang menekuni, mendalami, dan mengkaji limu tauhid. Pda masa lalu tingkat inytensitas mereka terhadap study ilmu tauhid sebatas memahami untuk kebutuhan pribadi, belum sampai mengejawantah dalam bentuk karya tulis untuk disampaikan kepada orang lain, karena kebutuhan sosial akan diskursus ilmu tauhid pada masa itu sangat minim. Kondisinya kemudian berubah pada masa setelahnya, ketika religiusitas sosial berubah dan keadaan masyarakat berbeda-beda, sehingga karya-karya tentang study ilmu tauhid dirasa sangat diperlukan.
B. Rumusan Masalah
Faktor-faktor apa saja yang mendorong lahirnya ilmu tauhid?
1.      Faktor apa saja yang mempengaruhi lahirnya ilmu tauhid
2.      Bagaimanakah perkembangan ilmu tauhid dari masa ke masa?
3.      Faktor apa saja yang mempengaruhi pertumbuhan ilmu tauhid menjadi ilmu kalam?  
4.      Bagaimana sistem mutakallim dalam membahas permasalahan kalam?




BAB II           
PEMBAHASAN
SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ILMU TAUHID
  1. Lahirnya Ilmu Tauhid
1.      Faktor Yang Mendorong Lahirnya Tauhid
a. Faktor Intern
Adalah faktor yang berasal dari islam itu sendiri. Adapun diantara faktor tersebut adalah adanya dalil al-Qur’an yang menjelaskan masalah ketauhidan, kenabian serta polemik terhadap agama-agama pada masa itu.Adapun dalil al-Qur’an tentang tauhid diantaranya:
َوالهكم اله وحد لااله الاهو الرحمن الرحيم (البقره:163)
Artinya: Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha Pemurah kagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqoroh:163)
Adapun faktor lain, diantaranya setelah wafatnya nabi, umat Islam bersentuhan dengan kebudayaan dan peradapan asing, mereka mulai mengenal filsafat, merekapun memfilsafati al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang secara lahir nampak satu sama lain tidak sejalan.
b.Faktor Ektern
Adalah faktor yang berasal dari luar islam. Diantaranya pola pikir ajaran agama lain yang tidak sejalan dengan islam, atau bahkan penganut islam itu sendiri yang awalnya non islam yang masih terbawa dengan adat-adat not islam.
2.      Kedudukan Tauhid dalam Islam
Seorang muslim meyakini bahwa tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar. Selain itu, tauhid merupakan salah satu syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai denga tuntutan Rosulullah.[1]
  1. Ke tauhidan dari Masa ke Masa
1.  Perkembangan Tauhid pada Masa Rasulullah SAW
Masa Rasulullah merupakan periode pembinaan aqidah dan peraturan-peraturan dengan prinsip kesatuan umat dan kedaulatan Islam. Segala masalah yang kabur dikembalikan langsung kepada Rasulullah, sehingga beliau berhasil menghilangkan perpecahan diantara uamatnya. Masing-masaing pihak tentu mempertahankan kebenaran pendapatnya dengan dalil-dalil, sebagaimana telah terjadi pada masa sebelum islam. Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk mentaati Allah dan Rasul-Nya, serta menghindari perpecahan yang menyebabkan timbulnya kelemahan dari segala bidang sehingga menimbulkan kekacauan. Firman Allah dalam surat Al-Anfal:46,
واطيعوا الله ورسوله ولا تنازعوا فتفشلوا وتذهبريحكم واصبروا ان الله مع الصبرين
Artinya: Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfal:46)
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dan sulit untuk dipungkiri, tetapi menjaga persatuan merupakan hal yang sangat diperlukan sebagai benteng dari perpecahbelahan. Demikian juga dalam menghadapi agama lain, kaum muslimin harus bersikap tidak membenarkan apa yang mereka sampaikan dan tidak pula mendustainya.
2.  Perkembangan Tauhid pada Masa Khulafaurrasyidin
Masa permulaan kholifah islam khususnya kholifah pertama dan kedua, ilmu tauhid masih tetap seperti masa rasulullah saw. Hal ini disebabkan kaum muslimin tidak sempat membahas dasar-dasatr aqidah. Waktu mereka tersita untuk menghadapi musuh, mempererat persatuan dan kesatuan umat. Kaum muslimin tidak mempersoalkan bidang aqidah, mereka membaca dan memahami al-Qur’an tanpa takwil, mengimani dan mengamalkannya apa adanya.  Kekacauan dalam bidang politik, mulai timbul pada masa kholifah ketiga, Usman bin Affan. Umat Islam mulai terjadi perpecahbelahan dengan mempertahankan pendapat mereka masing-masing. Pada masa ini pula mulai adanya penciptaan hadits-hadits palsu.
3.  Perkembangan Tauhid pada Masa Daulah Umayyah
Pada masa daulah Umayyah kedaulatan islam bertambah kuat sehingga kaum muslimin tidak perlu lagi berusaha untuk mempertahankan Islam seperti masa sebelumnya. Kesempatan ini digunakan kaum muslimin untuk mengembangkan pengetahuan dan pengertian tentang ajaran Islam. Terutama dengan berduyun-duyunnya pemeluk agama lain memeluk Islam, yang jiwanya belum bisa sepenuhnya meninggalkan unsur agamanya yang dulu, sehingga menyusupkan beberapa ajarannya. Masa inilah mulai timbul keinginan bebas berfikir dan berbicara yang selama ini didiamkan oleh golongan salaf.
Munculnya sekelompok umat Islam yang membicarakan masalah Qodar (Qodariyah) yang menetapkan bahwa manusia itu bebas berbuat, tidak ditentukan Tuhan. Sekelompok berpendapat sebaliknya, manusia ditentukan tuhan, tidak bebas berbuat (Jabariyah). Kelompok Qodariyah ini tidak berkembang dan melebur dalam madzhab mu’tazilah yang menganggap bahwa manusia itu bebas berbuat, sehingga mereka menamakan dirinya dengan ”ahlu al-adil” dan meniadakan semua sifat Tuhan karena dzat Tuhan tidak tersusun dari dzat dan sifat, Ia Esa, dari ini mereka menamai dirinya dengan ”ahlu at-tauhid”. Penghujung abad pertama hijriyah muncul pula kaum khowarij yang mengkafirkan orang muslim yang berbuat dosa besar, walaupun pada mulanya mereka adalah pengikut Ali bin Abi Tholib, akhirnya mereka memisahkan diri karena alasan politik. Sedangkan kelompok yang tetap mengikuti Ali disebut dengan golongan Syi’ah.
4.  Perkembangan Tauhid pada Masa Daulah Abbasyyah
Masa daulah Abbasyyah merupakan zaman keemasan dan kecemerlangan Islam, ketika terjadi hubungan pergaulan dengan suku-suku diluar arab yang mempercepat berkembangnya ilmu pengetahuan. Usaha terkenal pada masa itu adalah penterjemahan besar-besaran segala buku filsafat.
Para kholifah menggunakan keahlian orang Yahudi, Persia dan Kristen sebagai juru terjemah, walaupun masih ada diantara mereka menggunakan kesempatan ini untuk mengembangkan pikiran mereka sendiri yang diwarnai baju Islam tetapi dengan maksud buruk. Inilah yang melatarbelakangi timbulnya aliran-aliran yang tidak dikehendaki Islam. Pada masa ini juga muncul polemik-polemik menyerang paham yang dianggap bertentangan. Misalnya, Amar bin Ubaid al- Mu’tazil dengan bukunya ”Ar-ro’du  ’ala al-Alqodariyah” untuk menolak paham qodariyah, dan masih banyak contoh yang lainnya. Pengambilan dalil dalam aqidah Islam pada masa ini banyak menggunakan dalil filsafat.
5.  Perkembangan Tauhid Paska Abbasyyah
Setelah kemunduran Daulah Abbasyyah, golongan asy’ariyah yang sudah terlalu jauh menggunakan filsafat dalam alirannya tidak banyak mendapat tantangan lagi.Hanya sedikit mendapat reaksi dari golongan Hambaliyah yang tetap berpegang teguh pada pandangan salaf. Pada abad ke-8 hijriah muncul golongan Taimiyah yang menentang aliran Asy’ariyah. Sesudah itu pembahasan tauhid berhenti. Kefakuman ini cukup lama, barulah berakhir dengan munculnya Said Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Said Rhasid Ridha di Mesir, yang kemudian disebut gerakan Salafiiyah. [2]
  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ilmu Tauhid
1.  Faktor Intern (faktor yang datang dari Islam itu sendiri)
a.   Al-Qur’an menyinggung golongan-golongan  dan kepercayaan yang tidak benar
·     Golongan yang mengingkari agama dan adanya Tuhan, mereka mengatakan bahwa yang menyebabkan kebinasaan hanyalah waktu saja.Firman Allah dalam surat Al-jatsiah:24
وقالواماهي الا حياتناالدنيا نموت ونحياومايهلكنا الا الدهر و ما لهم بذالك من علم ان هم الا يظنون
Artinya:  Dan mereka berkata berkata, ”Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. (QS.Al-Jatsiah:24)
·     Golongan stirik yang menyembah bintang bulan dan matahari.
Firman Allah dalam surat Al-An’am:76,
·     فلما جن عليه الل راوكبا قال هذا ربي فلما افل لا احب
Artinya: Ketika malam telah menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang lalu dia berkata ”Inilah Tuhanku”. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata ”Saya tidak suka pada yang tenggelam. (QS. Al-An’am”76)
·     Golongan yang menuhankan nabi Isa dan ibunya.
·     Golongan yang mempertuhankan berhala
·     Golongan yang tidak percaya akan terutusnya nabi-nabi
·                 Golongan yang mengatakan bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah dari perbuatan Tuhan dengan tidak ada campur tangan manusia
b.  Ketika kaum muslimin selesai membuka negeri-negeri baru untuk masuk Islam, mereka mulai tentram dan tenang . Disinilah mulai mengemukakan persoalan-persoalan agama dan berusaha mempertemukan nash-nash agama yang kelihatannya saling bertentangan.
c.   Masalah politik, misalnya masalah kekholifahan. Ketika nabi wafat, beliau tidak mengangkat seorang pengganti, juga tidak menentukan cara pemilihan penggantinya. Karena itulah antara golongan anshor dan muhajirin terdapat perselisihan, masing-masing memghendaki supaya pengganti nabi dari golongannya.
2.      Faktok ekstern
a.   Banyak diantara pemeluk Islam yang mula-mula beragama yahudi, nasrani dan yang lainnya, bahkan diantara mereka ada yang sebagai pembesarnya. Sehingga setelah mereka memegang Islam, mereka mengingat-ingat kembali ajaran agamanya dan memasukkannya dalam ajaran Islam.
b.  Golongan Islam yang dulu, terutama golongan mu’tazilah memusatkan perhatiannya untuk penyiaran Islam dan membantah mereka yang memusuhi Islam.
c.   Para mutakallimin hendak mengimbangi lawan-lawannya dengan filsafat, maka mereka terpaksa mempelajari logika dan filsafat, sedangkan mu’tazilah mempelajari buku-buku Aritortales dan membantah pandapatnya.[3]
  1. Sistem Mutakallim dalam Membahas Permasalahan-Permasalahan Kalam
Ulama’ ahli kalam (mutakallimin) berbeda pendapat dalam menentukan hukum mempelajari hal-hal seputar aqidah. Sebagian ulama’ berpendapat, bahwa mempelajari Ilmu Kalam tidak menjadi syarat bagi keimanan seseorang dan hal itu bukan merupakan sebuah keharusan. Namun ia adalah penyempurna keimanan. Sementara mayoritas teolog mengatakan bahwa berfikir dan memahami aqidah melalui penalaran akal termasuk syarat dalam sahnya keimanan seseoramg. Dalam arti, keimanan yang benar harus muncul dari buah pikiran seseorang. Dengan adanya perbedaan pendapat tersebut berakibat munculnya golongan-golongan dalam Islam diantaranya,
1.  Khawarij
Khawarij adalah golongan yang memisahkan diri dari golongan yang mengikuti Ali bin Abi Tholib. Golongan ini berpendapat bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar dan belum sempat taubat ketika masih hidup maka dianggap kafir.
2.  Syi’ah
Adalah golongan yang setia terhadap Ali bin Abi Tholib. Mereka berpendapat bahwa yang berhak menggantikan nabi adalah Ahlul Bait. Diantara tokohnya adalah Zaid bin Ali dan Ja’far bin Shodik.
3.  Murji’ah
Selain khowarij dan syi’ah, pada masa ini juga muncul aliran lain yang memilih bersikap diam dan tidak mau memvonis siapakah yang salah antara golongan khawarij, syi’ah dan mu’awiyah. Mereka berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tetap mu’min selama masih beriman pada Allah Swt. Dan Rasul-Nya. Adapun pertanggungjawaban dosa orang tersebut ditunda penyelesaiannya di akhirat kelak, Allah sendiri yang akan menentukannya.
Dalam masalah hakikat iman, kaum murji’ah meyakini bahwa seseorang yang dalam hatinya percaya kepada Allah Swt. Tetapi secara lahir menyembah berhala atau memeluk agama Yahudi, Nasrani atau yang lainnya, ia akan tetap akan diperlakukan sebagai orang mu’min oleh Allah Swt. Dia akan mendapat ampunan atas perbuatan lahirnya dan akan dimasukkan ke dalam surga.
4.  Jabariyah
Golongan ini menyatakan bahwa, perbuatan manusia pada hakikatnya serba dipaksa (majbur). Manusia tidak mempunyai kebebasan memilih dan berbuat, karena perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Allah.Orang yang pertama kali mengenal faham ini adalah Ja’ad bin Dirham.
5.  Qodariyah
Aliran ini merupakan kebalikan dari paham jabariyah. Aliran qodariyah berpendapat bahwa, manusia mempunyai kekuasaan penuh atas perbuatannya. Pendiri aliran ini adalah Ma’bahah al-Junahi.Mereka berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia diciptakan oleh manusia itu sendiri. Allah tidak mempunyai hubungan dengan apa yang dilakukan oleh manusia sebelum perbuatan itu dikerjakan. Tapi nilai yang telah dikerjakan, maka pekerjaan tersebut baru diketahui dan mendapat penilaian dari Allah.
6.  Asy’ariyah
Golongan ini disebut juga dengan sebutan ahli sunah wal jama’ah. Aliran ini mempunyai tujuh prinsip pokok:
·         Allah swt. Mempunyai sifat diluar zat-Nya dan bukan dzat Tuhan itu sendiri.          
·          Al-Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, maka Al-Qur’an bersifat qodim.
·          Allah swt. Dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala manusia secara langsung, bagi mereka yang diizinkan.
·         Perbuatan manusia telah diciptakan oleh Allah, meskipun dalam diri manusia juga terdapat potensi yang bisa digunakan manusia untuk menggerakkan hati dan badan dalam berbuat dan berusaha.Namun potensi tersebut bersifat terbatas dan tidak efektif.
·         Manusia hanya wajib meyakini adanya Allah dan tidak wajib mengetahui hakikat Allah.
·         Dosa seseorang tidak dianggap bisa mengkufurkan seseorang, selama muslim tersebut masih iman, hanya saja dikategorikan sebagai mu’min yang durhaka,  mengenai keputusan ada di tangan Allah.
·         Allah adalah pencipta seluruh alam raya ini, karena itu Allah mempunyai kehendak mutlak untuk melakukan apa saja terhadap ciptaannya.[4]



















BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
1.      Lahirnya ilmu tauhid dipengaruhi oleh faktor intern dan ekstern. Adapun faktor internnya adalah  adanya dalil Al- Qur’an yang menjelaskan tentang ketauhidan dan faktor ekternnya adalah masuknya pola pikir ajaran agama lain yang dibawa oleh penganut Islam yang awalnya non Islam.
2.      Ilmu tauhid mengalami perubahan dari masa ke masa yaitu, pada masa nabi belum terjadi konflik karena setiap ada masalah selalu langsung disandarkan kepada nabi, pada masa khulafa’urrasidin, awal terjadinya kekacauan pada masa khalifah ke-3, yaitu pada masa pemerintahan Usman bin Affan, tauhid pada masa daulah Umayyah adanya ajaran non Islam yang msuk ke ajaran Islam yang dibawa oleh muallaf yang belum kuat imannya. Pada masa Abbasyyah, muncul polemik-polemik menyerang paham yang dianggap bertentangan, sehingga muilai muncul aliran-aliran, dan yang terakhir masa paska Abbasiyah, muncul golongan asy’ariyah yang sedikit mendapat tantangan.
3.      Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ilmu tauhid menjadi ilmu kalam diantaranya, Al-Qur’an menyinggung golongan-golongan dan kepercayaan yang tidak benar, ketika kaum muslimin membuka negeri baru untuk masuk Islam, mereka mulai mempertemukan nash agama yang kelihatannya saling bertentantangan, masuknya ajaran agama lain ke dalam ajaran Islam, pemusatan penyiaran agama Islam pada masa awal Islam, dan pengimbangan para mutakallimin terhadap lawannya dengan filsafat.
4.      Sistem mutakallimin dalam membahas kalam berbeda-beda sehingga muncul paham-paham dalam Islam.























DAFTAR PUSTAKA

Iskandar, Noer, Akidah kaum Sarungan. Purwakerta: Tim Saluran Teologi, 2005
. Mustajib, dkk, Materi Pokok Aqidah Akhlak. Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 1998

[1] http:/niedin. Wordpress. com./2009/01/28/pertuimbuhan dan perkembangan ilmu tauhid/
http//ilmu tauhid. Wordpress. Com/2009/04/12/sejarah-perkembangan-ilmu-tauhid/


[1] http:/niedin. Wordpress. com./2009/01/28/pertuimbuhan dan perkembangan ilmu tauhid/
[2] A. Mustajib, dkk, Materi Pokok Aqidah Akhlak (Jakarta: Dirjen Binbaga Islam, 1998), 7-12
[3] http//ilmu tauhid. Wordpress. Com/2009/04/12/sejarah-perkembangan-ilmu-tauhid/
[4] Noer  Iskandar, Akidah Kaum Sarungan (Purwakerta: Tim Saluran Teologi, 2005), 96-126

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews